t-media.id | Kementerian Pertanian (Kementan) meminta pemerintah daerah dan semua pihak terkait untuk lebih waspada terhadap potensi banjir pada awal 2026. Imbauan ini disampaikan untuk menjaga produksi pangan nasional agar tetap aman serta mendukung program swasembada pangan.
Mengutip laman resmi Kementan RI, Jumat (30/1/2026), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, langkah pencegahan harus dilakukan sejak sekarang, terutama di daerah sentra produksi pangan yang rawan hujan deras.
Menurutnya, pemerintah daerah tidak boleh menunggu bencana terjadi baru bertindak. Persiapan perlu dilakukan sejak perencanaan tanam hingga kesiapan sarana pendukung di lapangan.
“Kita harus bersiap dari sekarang. Jangan menunggu banjir datang baru bergerak,” ujar Mentan Amran.
Ia juga meminta daerah memaksimalkan luas tanam pada Musim Tanam I 2026 sesuai target. Selain itu, kesiapan benih, pupuk, alat dan mesin pertanian, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman harus benar-benar diperhatikan.
“Produksi pangan harus tetap berjalan. Semua daerah harus siap, baik dari sisi tanam, alat, maupun pengendalian hama,” tegasnya.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami musim hujan pada Januari 2026. Curah hujan sedang mendominasi lebih dari 76 persen wilayah, sementara hujan tinggi terjadi di sekitar 21 persen wilayah.
Kondisi ini, kata Mentan Amran, berpotensi menimbulkan genangan dan banjir, terutama di daerah dengan saluran air yang belum baik.
Memasuki Februari 2026, BMKG memperkirakan pola hujan mulai berubah. Meski sebagian besar wilayah masih mengalami hujan sedang, jumlah daerah dengan hujan rendah diperkirakan meningkat.
Mentan Amran mengingatkan, berkurangnya hujan di beberapa wilayah bukan berarti kondisi sudah aman. Petani tetap diminta memperhatikan cuaca dan menyesuaikan cara bertanam.
Di daerah dengan hujan sedang hingga tinggi, petani perlu memastikan saluran air berfungsi dengan baik agar air tidak menggenangi lahan. Sementara di daerah yang mulai kering, pengaturan waktu tanam dan penggunaan air harus lebih hemat.
“Pengelolaan air sangat penting agar tanaman tidak kekurangan atau kelebihan air,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Yudi Sastro menyampaikan, petani di daerah rawan banjir disarankan menggunakan varietas padi yang tahan genangan, seperti Inpara dan Inpari, untuk mengurangi risiko gagal panen.
Ia juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan jadwal tanam dengan prakiraan cuaca serta membersihkan dan memperbaiki saluran air agar luapan tidak masuk ke sawah.
Sebagai langkah pencegahan, Kementan telah menerbitkan surat peringatan dini sejak September 2025. Surat tersebut berisi arahan kesiapan sarana produksi, alat pertanian, pengendalian hama, hingga langkah menghadapi dampak perubahan iklim, mulai dari masa tanam hingga panen.
Kementan berharap langkah-langkah ini dapat menjaga target produksi beras nasional sebesar 34,77 juta ton tetap tercapai, sekaligus melindungi petani dari risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem. *[]
Sumber : ppid.pertanian.go.id












![Ketua KPU dan Anggota KPU saat Rapat Pleno Penetapan Peserta Pilgub Sulteng 2024. [ foto : Istimewa ]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/KPU-Sulteng-240924-1-1.jpg)

























![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)

















Touna Media Infotama
