TOUNA, t-media,id | Di ruang kerjanya yang riuh dengan laporan teknis, Mukminsyah Latjuba menarik napas panjang. Di luar, langit Tojo Una-Una mulai sering tumpah mengirim hujan, kontras dengan bulan lalu saat kemarau ekstrem memaksa debit air menyusut hingga titik nadir. Namun bagi Direktur Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Ue Tanah ini, hujan bukan berarti perkara selesai.
“Mengelola air bersih itu tak semudah membendung parit untuk mengaliri sawah,” ujar Mukminsyah saat ditemui di sela kesibukannya menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, Senin, 17 Maret 2026.
Menjelang hari kemenangan, Mukminsyah sadar betul bahwa keran yang mampet di rumah warga adalah isu sensitif. Ia tak menampik sorotan publik yang tajam belakangan ini. Alih-alih antikritik, sosok yang akrab dengan kalangan jurnalis ini justru menganggap keluhan warga sebagai potret nyata kondisi lapangan yang memang sedang “sakit”.
Mukminsyah menjelaskan, air yang sampai ke meja makan warga harus melewati perjalanan birokrasi dan teknis yang melelahkan. Dimulai dari intake di sungai, air harus dijinakkan di Instalasi Pengolahan Air (IPA) atau Water Treatment Plant (WTP). Di sana, air mentah diproses menjadi treated water—bebas kontaminan, mikroorganisme, hingga zat kimia berbahaya—sebelum parkir di reservoar dan akhirnya didorong ke pipa distribusi.
“Ini proses panjang yang butuh waktu dan biaya tidak sedikit,” tambahnya. Persoalannya, kondisi fiskal daerah yang terbatas akibat kebijakan pusat membuat anggaran operasional PDAM seringkali “napasnya pendek”. Mukminsyah mengaku telah berkoordinasi intens dengan pemerintah daerah untuk mencari celah anggaran di tengah dilema keuangan saat ini.
Meski kendala teknis dan anggaran masih membayangi, Mukminsyah tidak ingin kehilangan momentum kemanusiaan. Di tengah perjuangan teknisi PDAM memastikan pasokan air terjaga selama lebaran, ia menyelipkan pesan kerendahan hati.
“Di ambang Idulfitri ini, secara pribadi, keluarga dan atas nama lembaga, saya memohon maaf lahir dan batin, Minal Aidin Wal Faizin,” ucapnya tulus. Baginya, kritik warga adalah cambuk, namun dukungan dan kesabaran masyarakat adalah energi bagi PDAM Ue Tanah untuk terus berbenah.
Ia menutup perbincangan dengan sebuah harapan: bahwa transisi cuaca dan keterbatasan fiskal ini segera menemukan jalan keluar, agar air bersih tak lagi jadi barang mewah di bumi Sivia Patuju. *[]












![Ketua KPU dan Anggota KPU saat Rapat Pleno Penetapan Peserta Pilgub Sulteng 2024. [ foto : Istimewa ]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/KPU-Sulteng-240924-1-1.jpg)

























![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)











Touna Media Infotama
