t-media.id, Ampana Kota |Kekerasan dalam keluarga kembali terjadi dan menambah daftar panjang dampak konsumsi minuman keras. Seorang pemuda berinisial IN (32) di Kelurahan Bonerato, Kecamatan Ampana Kota, membacok ayah kandungnya, Muh. Nculi (61), pada Sabtu malam, 28 Maret 2026. Korban mengalami luka robek serius di pelipis kanan akibat sabetan parang.
Kapolsek Ampana Kota, AKP Maryanto, mengatakan pelaku berada dalam kondisi mabuk saat kejadian. Peristiwa bermula ketika pelaku memaksa adiknya ikut ke kebun pada malam hari. Ajakan itu tidak direspons. Teguran ibu pelaku justru memicu pertengkaran yang berujung kekerasan.
Dalam kondisi di bawah pengaruh alkohol, pelaku kehilangan kendali. Ia mengambil parang dan berupaya menyerang adiknya. Upaya ayahnya untuk melerai justru berujung petaka. Sabetan parang mengenai pelipis korban hingga menyebabkan pendarahan hebat.
Polisi yang menerima laporan warga segera menuju lokasi kejadian di Jalan Kuikiti. Korban dievakuasi bersama tim PSC Dinas Kesehatan ke rumah sakit dan berhasil diselamatkan. Pelaku sempat melarikan diri sebelum akhirnya diamankan bersama barang bukti dan diserahkan ke Unit Resmob Polres Tojo Una-Una untuk proses hukum lebih lanjut.
Menurut polisi, pelaku kerap terlibat konflik keluarga yang dipicu kebiasaan mengonsumsi minuman keras. Kasus ini dinilai bukan insiden tunggal, melainkan bagian dari pola berulang yang berkaitan dengan penyalahgunaan alkohol.
Sejumlah catatan aparat penegak hukum menunjukkan, kasus kekerasan yang dipicu minuman keras masih kerap muncul di berbagai daerah di Sulawesi Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, kepolisian setempat berulang kali menangani tindak penganiayaan, perkelahian, hingga kecelakaan lalu lintas yang berkaitan dengan konsumsi miras, terutama pada malam hari dan momen akhir pekan.
Fenomena ini memperlihatkan pola yang sama: konsumsi alkohol berlebih memicu hilangnya kontrol diri, memperbesar konflik kecil menjadi kekerasan terbuka. Dalam konteks keluarga, dampaknya kerap lebih fatal karena terjadi di ruang domestik yang seharusnya aman.
Peristiwa di Ampana Kota kembali menyoroti lemahnya pengendalian peredaran miras di tingkat daerah. Sejumlah kalangan menilai pemerintah daerah perlu mengambil langkah lebih tegas, mulai dari pengawasan distribusi, penertiban penjualan ilegal, hingga edukasi publik yang berkelanjutan.
Tanpa intervensi yang konsisten, potensi kejadian serupa dinilai akan terus berulang. Persoalan miras tidak lagi sekadar isu kesehatan, melainkan telah menjadi ancaman nyata bagi keamanan sosial dan ketahanan keluarga.
Pihak keluarga korban menyatakan akan menempuh jalur hukum atas kejadian tersebut. *[]
Sumber : Huma Polres Tojo Una-Una












![Ketua KPU dan Anggota KPU saat Rapat Pleno Penetapan Peserta Pilgub Sulteng 2024. [ foto : Istimewa ]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/KPU-Sulteng-240924-1-1.jpg)

























![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)

















Touna Media Infotama
