t-media.id | Tujuh belas tahun lalu, tanah Betaua masih terasa asing bagi rombongan warga Transmigrasi Swakarsa Mandiri asal Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Mereka datang membawa koper sederhana, bekal seadanya, serta harapan besar akan masa depan yang lebih baik. Ada kegamangan, ada ketakutan, namun ada pula keyakinan bahwa kerja keras akan menemukan jalannya.
Waktu berlalu perlahan. Tanah yang dulu terasa jauh kini tumbuh menjadi rumah. Ladang dibuka, rumah didirikan, anak-anak lahir dan tumbuh bersama. Perbedaan bahasa dan kebiasaan melebur dalam rutinitas harian, dalam gotong royong, dan dalam kebersamaan yang terjalin tanpa paksaan.
Senin siang (05/01/2026), perjalanan panjang itu dirayakan dalam sebuah syukuran sederhana di Desa Betaua, Kecamatan Tojo, Kabupaten Tojo Una-Una. Tidak ada kemewahan, hanya doa, makanan yang dibagi bersama, serta senyum yang merekam rasa syukur. Namun justru dalam kesederhanaan itulah makna perayaan terasa paling kuat.
Di tengah lingkaran warga, hadir Bupati Tojo Una-Una, Ilham Lawidu, S.H. Kehadirannya bukan sekadar memenuhi agenda pemerintahan, melainkan menyatu dalam suasana kekeluargaan yang telah lama tumbuh di desa ini. Ia duduk berdampingan dengan warga lokal dan transmigran, menyimbolkan bahwa sekat “pendatang” dan “tuan rumah” telah lama runtuh.
“Ini adalah bukti bahwa Desa Betaua memiliki hati yang terbuka. Warga transmigrasi diterima bukan sebagai orang luar, tetapi sebagai saudara,” ujar Bupati Ilham Lawidu dengan nada penuh penghargaan.
Syukuran ini, menurutnya, bukan sekadar penanda usia. Ia adalah cermin keberhasilan masyarakat menjaga harmoni di tengah keberagaman. Program Transmigrasi Swakarsa Mandiri, lanjutnya, tidak hanya berbicara tentang perpindahan penduduk, tetapi tentang membangun kehidupan baru—menyatukan perbedaan, menumbuhkan kemandirian, dan menciptakan kesejahteraan bersama.
“Keberhasilan transmigrasi tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari kuatnya persaudaraan, saling menghormati adat dan budaya, serta semangat gotong royong yang terus hidup,” katanya.
Dalam suasana khidmat, doa-doa dipanjatkan. Tawa dan cerita masa lalu mengalir bebas, mengenang hari-hari awal yang penuh tantangan. Para tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan warga duduk sejajar, seolah ingin menegaskan bahwa kebersamaan adalah fondasi utama desa ini.
Bupati Ilham Lawidu juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendampingi dan mendukung pengembangan kawasan transmigrasi, agar pertumbuhan yang terjadi benar-benar memberi manfaat bagi semua—baik warga lokal maupun transmigran.
Tujuh belas tahun telah membuktikan satu hal penting: Desa Betaua bukan sekadar tempat bermukim. Ia telah menjelma menjadi rumah bersama. Di tanah ini, perbedaan bukan alasan untuk berjarak, melainkan kekuatan untuk melangkah bersama menuju masa depan yang lebih sejahtera.*[]
Sumber : Istimewah











![Ketua KPU dan Anggota KPU saat Rapat Pleno Penetapan Peserta Pilgub Sulteng 2024. [ foto : Istimewa ]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/KPU-Sulteng-240924-1-1.jpg)

























![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)












Touna Media Infotama
