t-media.id — Penurunan debit air sungai akibat pemanasan global mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Kondisi ini menyebabkan pasokan air irigasi berkurang, terutama pada musim kemarau, dan meningkatkan risiko kekeringan lahan pertanian.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tojo Una-Una, Faisal Sannang, S.T., mengatakan bahwa penurunan debit air saat ini terjadi secara signifikan.
“Musim kemarau yang terjadi secara global berdampak langsung pada penyusutan sumber air hingga 50 persen atau lebih. Curah hujan yang rendah menyebabkan berkurangnya air permukaan sungai maupun air tanah,” ujar Faisal saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (29/1/2026).
Menurut Faisal, kondisi tersebut berpengaruh terhadap sejumlah Lahan Baku Sawah (LBS) di wilayah Tojo Una-Una. Berkurangnya debit air irigasi menyebabkan distribusi air ke sawah tidak maksimal, sehingga meningkatkan ancaman gagal panen (puso) bagi petani.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Dinas PUPR Tojo Una-Una melalui Bidang SDA menyiapkan sejumlah langkah strategis guna memaksimalkan ketersediaan air yang ada. Upaya tersebut meliputi pompanisasi, normalisasi dan pembersihan saluran, serta modernisasi jaringan irigasi.
Pompanisasi dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan pompa untuk mengambil air dari sungai yang debitnya menipis maupun dari sumber air tanah untuk dialirkan ke lahan pertanian. Sementara itu, normalisasi dilakukan melalui pengerukan sedimen pada sungai dan saluran irigasi agar sisa debit air dapat mengalir lebih optimal.
“Selain itu, kami juga melakukan modernisasi irigasi agar jaringan yang ada lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan,” kata Faisal.
Saat ini, Kabupaten Tojo Una-Una memiliki jaringan irigasi yang tersebar di 10 titik Daerah Irigasi (DI). Seluruh jaringan tersebut terus dimonitor untuk memastikan fungsi dan kondisinya tetap optimal.
Sebagai solusi jangka menengah, Dinas PUPR juga merencanakan pembangunan suplesi. Suplesi merupakan pembangunan saluran atau bangunan air tambahan yang berfungsi mengalirkan air dari sumber lain ke saluran irigasi utama guna mengatasi defisit air di wilayah tertentu.
“Suplesi bertujuan meningkatkan suplai air, terutama saat debit menurun atau bendung mengalami kerusakan, sehingga kebutuhan air pertanian tetap terpenuhi,” ujar Faisal.
Pada tahun 2026, Dinas PUPR Tojo Una-Una berencana mengajukan anggaran pembangunan suplesi di Desa Korondoda dengan nilai sekitar Rp 371 juta.
Faisal berharap berbagai upaya tersebut dapat mendukung program pemerintah daerah, khususnya dalam pencetakan ribuan hektare sawah baru, serta menjaga keberlangsungan sektor pertanian di tengah tantangan perubahan iklim. *[]











![Ketua KPU dan Anggota KPU saat Rapat Pleno Penetapan Peserta Pilgub Sulteng 2024. [ foto : Istimewa ]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/KPU-Sulteng-240924-1-1.jpg)

























![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)












Touna Media Infotama
