t-media.id, AMPANA TETE |Tubuh FJ nyaris tinggal tulang berbalut kulit. Bocah berusia lima tahun itu terbaring lemah di rumah sederhana keluarganya di Desa Tete B, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Tatapannya kosong. Nafasnya pendek. Sang ibu hanya bisa duduk di sampingnya sambil memegang buku Posyandu dan beberapa foto lama anaknya.
Di foto itu, FJ tampak sehat. Tubuhnya berisi. Ia bahkan terlihat aktif bersama anak-anak lain. Namun kondisi itu berubah drastis setelah ia dibawa ke Posyandu pada akhir 2021, saat usianya belum genap satu tahun.
“Pulang dari Posyandu dia panas tinggi dan muntah-muntah,” kata FI, ibu FJ, Senin, 18 Mei 2026.
FI mengaku awalnya mengira anaknya hanya mengalami demam biasa. Di lingkungan tempat tinggalnya, kondisi seperti itu sering dianggap “keteguran”. Namun setelah beberapa bulan, tubuh FJ terus melemah. Berat badannya turun drastis. Saat genap satu tahun, demam kembali datang dan keluarga membawa FJ ke salah satu dokter praktik.
Menurutnya, dokter menyebut anaknya mengalami gejala cairan di paru-paru. Namun keluarga mengaku tidak pernah mendapat penjelasan menyeluruh mengenai apa yang sebenarnya terjadi sejak FJ menjalani pelayanan kesehatan di Posyandu.
Yang kini dipertanyakan keluarga bukan sekadar kondisi kesehatan FJ, tetapi juga kemungkinan adanya kelalaian prosedur pelayanan kesehatan dasar. Mereka menilai tidak ada tindak lanjut serius dari pihak fasilitas kesehatan setelah kondisi anak itu memburuk.
Kepala Puskesmas Ampana Tete, Mohamad Rizal Sumaga, SKM, ketika dikonfirmasi menyatakan ada dua kemungkinan penyebab kondisi Fardan.
“Bisa karena KIPI atau memang ada penyakit bawaan,” ujar Rizal beralibi
KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi merupakan kondisi medis yang muncul setelah imunisasi. Namun pernyataan itu belum menjawab pertanyaan utama keluarga: apakah prosedur pelayanan saat Posyandu telah dijalankan sesuai standar atau tidak.
Rizal sempat menyatakan akan menurunkan tim dalam waktu dua hari untuk memastikan penyebab kondisi FJ. Namun hingga berita ini diturunkan, keluarga mengaku belum menerima penjelasan resmi maupun hasil pemeriksaan detail dari pihak Puskesmas.
Situasi itu memunculkan sorotan baru terhadap kualitas pengawasan pelayanan kesehatan tingkat desa di Kabupaten Tojo Una-Una. Apalagi Posyandu merupakan layanan kesehatan dasar yang langsung bersentuhan dengan bayi dan balita.
Kasus FJ kini berkembang bukan hanya menjadi persoalan medis, melainkan juga menyangkut akuntabilitas pelayanan publik.
Warga mulai mempertanyakan mengapa kondisi seorang anak bisa memburuk selama bertahun-tahun tanpa penanganan serius dari pihak terkait. Mereka juga menyoroti lambannya respons Puskesmas setelah kasus ini mencuat ke publik.
Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una dinilai tidak boleh tinggal diam. Bupati Tojo Una-Una didesak segera membentuk tim independen untuk memeriksa seluruh rangkaian pelayanan kesehatan yang diterima FJ, termasuk prosedur di Posyandu dan tindak lanjut medis dari Puskesmas Ampana Tete.
Pemeriksaan itu penting untuk memastikan ada atau tidaknya unsur kelalaian, sekaligus menjawab keresahan publik. Sebab bila dugaan ini dibiarkan tanpa investigasi terbuka, kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan dasar bisa runtuh.
Di tengah lemahnya kondisi FJ, keluarga kini hanya berharap ada keberanian pemerintah daerah membuka fakta secara terang. Bagi mereka, ini bukan sekadar soal administrasi kesehatan, tetapi tentang masa depan seorang anak yang perlahan hilang tanpa kepastian. *[]








































![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)














Touna Media Infotama
