t-media.id, AMPANA – Senin pagi, 11 Mei 2026, halaman Kantor Kejaksaan Negeri Tojo Una-Una di Jalan Merdeka, Kelurahan Uemalingku, berubah menjadi dapur “eksekusi”. Di sana, sebuah blender tidak sedang melumat buah, melainkan menghancurkan 135,79 gram kristal bening sabu-sabu dan belasan butir obat keras Trihexyphenidyl.
Di bawah pengawasan Kepala Kejaksaan Negeri, Dr. Rizky Fahrurozi, S.H., M.H., serpihan barang haram itu dicampur cairan pembersih piring hingga larut, lalu dibuang. Di sudut lain, api melalap tumpukan pakaian yang menjadi saksi bisu perkara perlindungan anak, sementara palu godam menghantam telepon seluler dan timbangan digital hingga remuk.
“Ini adalah implementasi tugas jaksa sebagai eksekutor. Kami memastikan putusan pengadilan tuntas hingga ke akarnya,” ujar Rizky Fahrurozi. Namun, di balik seremonial pemusnahan ini, terselip pesan yang lebih getir tentang kondisi keamanan di wilayah berjuluk Bumi Emas Sivia Patuju itu.
Kapolres Tojo Una-Una, AKBP Yanna Djayawidya, S.I.K., M.H., yang hadir menyaksikan prosesi tersebut, tidak sekadar datang untuk menggugurkan kewajiban protokoler. Baginya, tumpukan barang bukti yang dimusnahkan—terutama dari 13 perkara narkotika—adalah sebuah alarm nyaring.
“Angka peredaran narkoba di Tojo Una-Una masih tergolong tinggi,” kata Yanna di sela-sela kegiatan. Ia memotret pergeseran pola distribusi yang kini mulai memanfaatkan celah komunikasi digital, membuat jaringan pengedar menjadi semakin kedap dan tertutup.
Baginya, pemusnahan ini bukan sekadar membuang sampah hukum, melainkan upaya memutus rantai penyalahgunaan yang mengincar generasi muda. “Ini alarm bagi kita semua. Potensi perkembangan narkotika tetap ada jika pencegahan tidak dilakukan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Selain narkotika, sorotan juga tertuju pada barang bukti perkara illegal fishing. Sejumlah bom ikan dilarutkan ke dalam air sebelum dikubur di dalam tanah. Ironis memang, di tengah upaya pemerintah daerah mempromosikan keindahan bawah laut Touna, praktik penangkapan ikan dengan bahan peledak masih menghantui ekosistem laut akibat himpitan ekonomi dan minimnya pengawasan di perairan.
Tak hanya di laut, kerawanan sosial di darat pun terpotret dari barang bukti pakaian hasil kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Yanna meminta adanya penguatan pengawasan dari level terkecil: keluarga.
Acara yang berakhir menjelang siang itu dihadiri oleh beragam elemen, mulai dari Wakil Ketua DPRD Jafar M. Amin hingga jajaran Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial. Di mata para penegak hukum yang berkumpul di Ratolindo hari itu, pemusnahan barang bukti ini adalah pesan terbuka: bahwa hukum tidak hanya berhenti di atas kertas putusan, tapi juga dieksekusi hingga tuntas di tempat terbuka.
Kini, tugas berat menanti pasca-asap pembakaran hilang. Menekan angka kriminalitas di Tojo Una-Una jelas butuh lebih dari sekadar blender dan api pemusnah; ia butuh sinergi yang lebih erat dari sekadar seremoni satu pagi. *[]
Sumber : Humas kejari Tojo Una-Una – Humas Polres Tojo Una-Una













![Ketua KPU dan Anggota KPU saat Rapat Pleno Penetapan Peserta Pilgub Sulteng 2024. [ foto : Istimewa ]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/KPU-Sulteng-240924-1-1.jpg)

























![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)

















Touna Media Infotama
