PALU, t-media.id — Media sosial di Sulawesi Tengah dihebohkan oleh beredarnya infografis berlogo Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bertajuk “Peringatan Dini 7 Kabupaten di Sulteng Waspada Kekeringan!”. Gambar bergaya poster imbauan tersebut merinci tujuh wilayah berstatus waspada kekeringan meteorologis.
Saat dikonfirmasi melalui kanal resmi pengaduan WhatsApp Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG/GAW) Lore Lindu Bariri di Sulawesi Tengah, otoritas BMKG tersebut membantah telah menerbitkan infografis visual tersebut. Pihak stasiun menegaskan bahwa gambar yang beredar di masyarakat bukan merupakan produk desain grafis resmi instansi mereka.
Meski BMKG SPAG Lore Lindu Bariri mengklarifikasi bentuk visual poster tersebut sebagai produk buatan pihak ketiga tanpa izin (un-official), penelusuran fakta menunjukkan bahwa materi ilmiah dan angka-angka yang termuat di dalamnya selaras dengan kondisi iklim riil di Sulawesi Tengah.
Melalui publikasi artikel ilmiah resmi berjudul “Pengaruh El Niño terhadap Kualitas Udara: Penyebab, Ciri, dan Cara Menghadapinya” tertanggal 19 Agustus 2026 yang diampu oleh Muhammad Hafizh Suwandi, S.Tr.Klim., BMKG secara tegas memaparkan bahwa wilayah Sulawesi Tengah memang tengah berada dalam cengkeraman fenomena El Niño dengan kategori sangat kuat.
“Anomali suhu muka laut di kawasan Nino3.4 mencatatkan peningkatan signifikan. Dipadu dengan Dipol Samudra Hindia (IOD) positif, pasokan uap air ke wilayah Nusantara berkurang drastis, menciptakan kondisi yang jauh lebih kering dari biasanya,” tulis rilis ilmiah resmi SPAG Lore Lindu Bariri.
Dampak dari kekeringan ekstrem ini terbukti memicu bencana nyata di lapangan. Berdasarkan pemetaan BMKG per Agustus 2026, curah hujan di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah—khususnya Kabupaten Tojo Una-Una—berada pada kategori sangat rendah, yakni berkisar 0 hingga 50 milimeter per bulan (kategori bawah normal 0–30 persen dari rata-rata klimatologis).
Kondisi vegetasi yang mengering drastis ini membuat lahan sangat mudah terbakar. Sebagai bukti, pada Senin, 17 Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 20 hektare menghanguskan kawasan Gunung Kalendeng, Dusun Pakanangi, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una. Kebakaran besar tersebut dipicu oleh hal sepele: puntung rokok yang dibuang sembarangan di lahan kering dan dengan cepat membesar diterpa angin kencang.
Oleh karena itu, BMKG dan pihak berwenang mengimbau secara tegas kepada masyarakat agar tidak sembarangan membuang puntung rokok yang masih menyala dan menghentikan kebiasaan membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar.
Dalam kondisi kemarau ekstrem akibat El Niño, percikan api terkecil sekalipun sanggup melalap puluhan hektare lahan dan memperburuk pencemaran kualitas udara (PM2.5). Masyarakat diharapkan selalu memverifikasi ulang informasi cuaca dan iklim melalui laman resmi BMKG di https://gaw-bariri.bmkg.go.id/ *[]
Sumber : https://gaw-bariri.bmkg.go.id/












































Touna Media Infotama
