TOJO UNA-UNA|t-media.id — Kebiasaan mengirim kontingen gemuk berbiaya besar yang kerap berujung nirprestasi kini resmi digugat dari dalam. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) mulai meletakkan garis demarkasi yang tegas dalam menyongsong Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tengah X di Kabupaten Morowali pada 2026 mendatang.
Langkah ini menjadi sinyal penting pembenahan tata kelola olahraga di Touna. Dipimpin langsung oleh Ketua Umum KONI Touna, ILHAM, S.H., rapat koordinasi di Ruang Rapat Kantor Bupati pada Selasa, 29 September 2026, tak lagi menjadi arena seremonial, melainkan forum pembuktian kesiapan.
Di tengah keterbatasan anggaran daerah yang kerap digerogoti pos akomodasi non-prioritas, Ilham mematok tiga barikade kebijakan yang membongkar pola-pola lama:
Di banyak daerah, tradisi membajak atau merekrut atlet transfer dari luar wilayah menjadi cara pintas meraih medali instan. KONI Touna secara terbuka menutup celah tersebut. Ilham menegaskan bahwa seluruh atlet yang dikirim ke Morowali wajib berstatus penduduk asli Touna dengan identitas kependudukan dan administrasi yang sah.
Kebijakan ini menjadi teguran keras bagi pengurus cabang olahraga (cabor) yang malas membina talenta lokal. Porprov ditegaskan kembali pada khittah-nya: sebagai panggung uji hasil pembinaan daerah, bukan panggung pamer medali dari atlet pinjaman.
KONI Touna menolak menjadi tempat penampungan cabor yang sekadar kejar tayang demi memenuhi kuota keberangkatan. Evaluasi melingkupi kesiapan atlet, jajaran pelatih, hingga kedisiplinan pemusatan latihan. Cabor yang belum memenuhi standar kelayakan secara obyektif akan langsung dicoret dari daftar kontingen.
Langkah ini menyasar penyakit klasik dalam kontingen olahraga daerah, di mana keberangkatan acap kali dipaksakan sekadar untuk membagi-bagi porsi anggaran, ketimbang memperhitungkan peluang medali.
Di sektor tata kelola keuangan, skema pemangkasan ketat diberlakukan secara drastis. Anggaran operasional bagi cabor yang telah gugur dan tersingkir di fase awal pertandingan bakal langsung disetop. Atlet beserta tim pendukungnya diwajibkan segera angkat koper kembali ke Ampana agar biaya penginapan dan konsumsi tidak terus mengucur tanpa gunanya pertandingan.
“Kita harus realistis dan efisien. Kita ke Morowali untuk prestasi, bukan sekadar pelesiran,” ujar Ilham menekankan arahannya. “Tidak ada pemain luar, jangan paksakan cabor yang belum siap, dan kalau sudah kalah serta tidak lanjut, kita pulangkan. Anggaran harus tepat sasaran.”
Sikap lugas yang ditunjukkan KONI Touna menjadi kritik terbuka atas praktik tata kelola anggaran olahraga yang selama ini kerap tidak akuntabel. Kendati demikian, ketegasan ini menuntut konsistensi. Pengetatan kriteria keberangkatan harus diimbangi dengan transparansi proses verifikasi dan keadilan bagi cabor-cabor yang memang berpotensi.
Saat ini, KONI Touna bersama tim kerja khusus tengah memproses verifikasi dan pendataan ulang cabor. Publik kini menanti, apakah keberanian KONI memangkas pos pemborosan ini benar-benar mampu melahirkan tradisi prestasi baru bagi olahraga Tojo Una-Una di Morowali 2026 kelak. *[]


















































Touna Media Infotama
