RATOLINDO|T-MEDIA.ID — Pemerintah Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, resmi menggandeng komunitas pelaku usaha dan ekosistem pariwisata lokal untuk menyukseskan Festival Maleo 2026. Langkah ini diambil guna memastikan festival perdana tersebut berdampak langsung pada ekonomi daerah.
Rencana kolaborasi ini dimatangkan dalam diskusi bersama para pelaku industri pariwisata di Marina Cottage, Minggu sore, 7 Juni 2026. Pertemuan tersebut menggalang komitmen dari pramuwisata (tour guide lokal dan asing), pemilik cottage, resor, serta pelaku usaha pendukung lainnya.
Camat Ampana Tete, Abd. Wahid, yang menjadi inisiator festival ini, menegaskan bahwa pelibatan aktor lokal bukan sekadar pelengkap acara, melainkan instrumen vital dalam rantai pelayanan wisata.
“Pelibatan pramuwisata dan pelaku usaha lokal sangat krusial. Mereka adalah garda terdepan yang mengelola kunjungan wisatawan, memastikan kualitas layanan, dan menjadi penggerak utama rantai ekonomi daerah, seperti perhotelan dan restoran,” kata Wahid.
Sesuai Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, kelompok ini merupakan pilar pelaku usaha kepariwisataan. Dalam ekosistem pariwisata modern, keterlibatan mereka bersama pemerintah dan media membentuk sinergi Penta-Helix yang menentukan hidup-matinya industri wisata daerah.
Selain kesiapan ekosistem usaha, diskusi tersebut sempat menghangat terkait status hukum dan batas wilayah konservasi habitat burung maleo di Kecamatan Ampana Tete. Isu ini mencuat lantaran adanya informasi bahwa Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) belum mengeluarkan penetapan resmi mengenai peta area habitat maleo di wilayah Tojo Una-Una.
Merespons hal tersebut, Abd. Wahid menegaskan perlunya langkah konkret kepanitiaan untuk memperjelas sejauh mana koordinasi telah dilakukan dengan pihak BKSDA, khususnya mengenai wilayah Suaka Margasatwa. Wahid menyebut bahwa orientasi festival ini akan difokuskan pada aspek penangkaran demi menghindari benturan regulasi konservasi yang ketat di tingkat desa.
“Kalau konservasi mungkin masih melihat situasi dan kondisi yang ada di desa. Kami lebih mendorong ke penangkaran. Ini langkah strategis untuk dijadikan destinasi di Ampana Tete,” ujar Wahid.
Melalui perhelatan festival ini, Pemerintah Kecamatan Ampana Tete berkomitmen mendesak langkah inventarisasi dan perlindungan habitat dari otoritas terkait. “Dengan kegiatan ini, kita akan mendorong inventarisasi dan perlindungan oleh Balai KSDA Sulawesi Tengah dalam upaya pengelolaan perlindungan satwa endemik ini melalui Seksi Konservasi Wilayah II,” tambahnya.
Meski waktu pelaksanaan kian dekat, Wahid mengingatkan seluruh pihak agar tidak mengabaikan detail teknis, termasuk sinkronisasi isu lingkungan tersebut. Evaluasi dan persiapan matang menjadi taruhan utama reputasi pariwisata Tojo Una-Una.
“Sangat penting dan tidak boleh kita abaikan berkaitan dengan berbagai persiapan yang wajib terkonfirmasi. Jika hal teknis tidak dipersiapkan sebaik mungkin, hasilnya tidak akan maksimal,” kata Wahid tegas. Ia meminta dukungan penuh dari masyarakat dan komunitas agar festival berjalan tanpa kendala.
Festival Maleo dijadwalkan meluncur pada 25 Juni 2026. Selain mengandalkan ekosistem pelaku usaha, panitia juga telah mengamankan dukungan publikasi dari media lokal dan nasional, termasuk KBRN RRI Ampana, untuk memperluas jangkauan promosi kegiatan tersebut. *[]









































![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)
















Touna Media Infotama
