SIGI | T-MEDIA.ID — Ruang utama Taman Likuifaksi di Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, riuh oleh lantunan ayat suci pada Sabtu malam, 6 Juni lalu. Di sudut arena Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-31 Tingkat Provinsi Sulawesi Tengah itu, rombongan petinggi dari Kabupaten Tojo Una-Una tampak duduk di barisan depan.
Bupati Ilham Lawidu, Wakil Bupati Hj. Surya Lapasiri, hingga Sekretaris Daerah Alfian Matejeng sengaja bertolak dari Bumi Sivia Patuju—julukan Tojo Una-Una—menuju Sigi. Kehadiran para pemangku kebijakan ini bukan sekadar seremonial, melainkan babak akhir dari kerja senyap berbulan-bulan di balik meja birokrasi.
“Apresiasi pemerintah daerah ini menjadi penyemangat besar bagi seluruh peserta, pelatih, dan pembina untuk memberikan yang terbaik,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama Tojo Una-Una, H. Mohammad Syaharidin, kepada jurnalis pada Senin, 8 Juni 2026.
Di balik keberangkatan kafilah, ada jalinan kerja sama yang ketat antara Kementerian Agama dan Pemerintah Daerah. Persiapan MTQ kerap kali tersandung masalah klasik: tumpang tindih kewenangan atau urusan logistik yang tersendat. Namun, di Tojo Una-Una, pembagian peran diklaim berjalan presisi.
Kemenag, bersama Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), mengambil porsi sebagai motor teknis. Mereka menyisir bakat dari tingkat kecamatan, menyeleksi pelatih profesional, hingga mengawal verifikasi berkas administrasi agar tak ada peserta yang diskualifikasi di meja panitia provinsi.
Sementara itu, urusan isi dompet diserahkan kepada Pemda. Melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Pemda Tojo Una-Una menyuntikkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Anggaran ini dikunci untuk pos-pos krusial: uang pembinaan, hotel pemondokan yang layak, konsumsi, hingga seragam serasi yang dikenakan kafilah saat defile pembukaan.
Jadwal ketat pemusatan latihan (Training Center) juga dirancang bersama demi memastikan fisik dan mental para peserta digembleng secara maksimal sebelum naik ke mimbar tilawah.
Meski disokong fasilitas penuh dan anggaran daerah, para peserta justru diminta untuk melepas beban kompetisi. Pendekatan persuasif ini ditekankan oleh Wakil Bupati Touna, Hj. Surya Lapasiri.
Saat melepas kafilah, Surya yang dikenal dengan pembawaannya yang arif, memberikan pesan yang justru kontras dengan target-target politik juara umum pada umumnya. “Jangan merasa terbebani oleh target. Tampilkan kemampuan diri terbaik dan utamakan ketenangan,” ujarnya.
Bagi Pemda dan Kemenag Touna, esensi dari mimbar keagamaan ini bukan sekadar membawa pulang piala atau menaikkan peringkat daerah di tabel juara. Target jangka panjangnya adalah investasi manusia: melahirkan generasi muda yang cerdas, kompetitif, dan berakhlak mulia berbasis nilai-nilai kitab suci.
Rangkaian perlombaan di Sigi dijadwalkan berlangsung hingga 12 Juni mendatang. Bagi kafilah Tojo Una-Una, ketenangan di panggung tilawah kini menjadi modal utama untuk membuktikan bahwa sinergi birokrasi di rumah mereka bisa berbuah prestasi di tanah orang. *[]
H. Sam Asiku (Kontributor)









































![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)












Touna Media Infotama
