TOJO UNA-UNA|t-media.id — Deru mesin dua tak dan kepulan asap pekat ratusan Yamaha RX-King sukses menggetarkan aspal Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una (Touna), Sulawesi Tengah, sepanjang akhir pekan, 27–28 Juni 2026. Pemerintah daerah bergegas menepuk dada, mengklaim Jambore VI Regional Sulawesi Tengah ini sebagai panggung emas untuk mengerek sektor pariwisata lokal ke kancah nasional.
Namun, di balik selebrasi dan okupansi losmen yang penuh sesak, ada ironi besar yang luput dari pidato manis para pejabat: tidak ada ledakan promosi di jagat digital.
Bupati Tojo Una-Una, Ilham Lawidu, boleh saja bangga karena daerahnya berhasil menyisihkan 81 kabupaten lain di Sulawesi untuk menjadi tuan rumah. Ia menyebut kehadiran ribuan bikers dari lintas pulau—mulai dari Sulawesi, Maluku, hingga Jawa—sebagai berkah ekonomi. “Ini peluang emas mempromosikan potensi wisata Kepulauan Togean,” ujar Ilham dalam sambutannya.
Sayangnya, ekspektasi pemda tampaknya berjalan di tempat, jika tidak mau disebut salah hitung.
Di era modern, ratusan bikers yang memadati Bumi Sivia Patuju sejatinya adalah tentara digital marketer potensial. Mereka dibekali ponsel pintar di saku jaket kulit mereka. Jika dikelola secara taktis, kehadiran mereka mampu menciptakan user-generated content (UGC)—konten berbasis pengguna—berskala masif dan gratis yang langsung menyasar jutaan pengguna media sosial.
Namun, pantauan di platform digital seperti Instagram, TikTok, hingga Facebook sepanjang acara justru menunjukkan anomali.
Alih-alih membanjiri lini masa dengan keindahan lanskap pantai Touna atau eksotisme Kepulauan Togean yang anggun, unggahan para peserta mayoritas hanya berkutat pada dokumentasi internal: foto bersama di atas motor, barisan knalpot, atau suasana panggung hiburan. Destinasi wisata Touna yang katanya hendak “dijual” ke tingkat nasional justru absen sebagai latar belakang foto.
Aktivis pariwisata dan pengamat digital menilai fenomena ini sebagai kegagalan pemda dalam merancang event yang adaptif terhadap tren komunikasi modern. Membawa ribuan orang ke sebuah daerah adalah satu hal, tetapi mengarahkan mereka menjadi “corong promosi” adalah persoalan kompetensi manajemen.
“Pemerintah daerah gagap menangkap peluang. Ratusan bikers itu dibiarkan datang, memadati kota, lalu pulang tanpa ada insentif atau desain acara yang memaksa mereka untuk berfoto di ikon-ikon wisata Touna. Potensi promosi gratis yang sangat bernilai menguap begitu saja bersama asap knalpot,” ujar seorang pengamat komunikasi visual yang enggan disebut namanya.
Seharusnya, panitia dan Pemda Touna bisa menyediakan photobooth interaktif bertema Togean di lokasi utama, menyelenggarakan kompetisi konten digital antar-peserta, atau minimal mewajibkan penggunaan tagar (hashtag) pariwisata resmi daerah yang terintegrasi.
Tanpa adanya strategi digital yang konkret, jargon “promosi wisata” dalam acara-acara komunitas berskala besar seperti ini tak lebih dari sekadar pemanis pidato pejabat. Pada akhirnya, ketika ratusan “Raja Jalanan” itu kembali ke daerah asal, Tojo Una-Una terancam kembali sunyi—tetap menjadi daerah yang eksotis, namun gagal dikenal dunia luar karena salah mengelola momentum. *[]









































![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)











Touna Media Infotama
