TOUNA, t-media.id – Musibah tenggelamnya kapal pengangkut 11 wisatawan mancanegara (WNA) di Perairan Teluk Tomini tidak hanya menampar sektor transportasi laut, tetapi juga menjadi ujian berat bagi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Tojo Una-Una. Insiden fatal ini terjadi hanya selang beberapa hari usai gelaran Musyawarah Cabang (Muscab) DPC HPI Touna pada Rabu (22/7/2026) yang menetapkan kepengurusan dan ketua baru.
Sebagai wadah tunggal profesi pemandu wisata berlisensi, HPI memiliki fungsi vital sebagai mitra strategis pemerintah, garda terdepan duta bangsa, sekaligus pengawal keselamatan para pelancong. Tanggung jawab moral dan profesionalisme HPI kini berada di bawah sorotan tajam publik dan para pemerhati pariwisata.
HPI sejatinya wajib mengutamakan keselamatan wisatawan melalui mitigasi risiko yang ketat, penyampaian safety briefing sebelum berlayar, hingga memastikan kelaikan standar pelayanan pandu wisata.
Namun, insiden yang menimpa 11 turis asing di perairan Una-Una memicu gelombang pertanyaan dari sejumlah pemerhati pariwisata daerah. Seorang pemerhati pariwisata yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa insiden ini merupakan tes ombak nyata bagi jajaran pengurus baru DPC HPI Touna.
“Ini menyangkut citra dan kepercayaan dunia internasional terhadap pariwisata Tojo Una-Una. Jika insiden keselamatan seperti ini tidak dikemas, diklarifikasi, dan ditangani dengan langkah mitigasi yang jelas kepada publik, dampaknya bisa sangat fatal terhadap penurunan angka kunjungan wisatawan asing ke depan,” tegas sumber tersebut kepad media ini (Sabtu malam,25/7/2026).
Menjawab hal tersebut, Ketua Terpilih DPC HPI Kabupaten Tojo Una-Una Saiful Hulungo menyampaikan penjelasan resmi kepada awak media. Menurutnya, penanganan insiden yang terjadi merupakan wewenang instansi teknis yang berwenang, sembari mengapresiasi kerja cepat tim gabungan.
“Soal insiden kemarin, tentunya ada pejabat dan instansi berwenang seperti Basarnas dan Polairud yang lebih kompeten menjelaskan. Kami sangat mengapresiasi upaya tim gabungan yang telah bekerja keras melakukan penyelamatan,” ujarnya.
Terkait langkah pencegahan ke depan, pihak HPI menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap faktor cuaca ekstrem yang sulit diprediksi di perairan Teluk Tomini. HPI mengimbau seluruh pemilik resort, agen perjalanan, dan pemandu wisata untuk menjadikan informasi prakiraan cuaca sebagai acuan utama sebelum melakukan penyeberangan.
“Kondisi cuaca di perairan Teluk Tomini belakangan ini memang tidak menentu. Kami berharap kawan-kawan pemilik resort, agen, hingga pemandu wisata lebih berhati-hati dan selalu memantau data resmi dari BMKG sebelum memutuskan berlayar. Jika cuaca tidak memungkinkan, jangan pernah memaksakan penyeberangan,” tambahnya.
Di luar aspek teknis pemandu wisata dan faktor cuaca, insiden ini memantik kritik tajam terhadap peran Dinas Pariwisata Kabupaten Tojo Una-Una. Sebagai instansi pemerintah yang membidangi sektor pariwisata, Dinas Pariwisata dinilai tidak boleh hanya berfokus pada promosi dan target kunjungan, tetapi wajib bertanggung jawab dalam membangun ekosistem wisata yang aman dan teregulasi.
Publik dan pengamat menilai Dinas Pariwisata Touna perlu mengambil langkah nyata melalui Pengawasan dan Standarisasi Keselamatan Destinasi dimana Dinas Pariwisata harus hadir menyusun dan mengawasi Standard Operating Procedure (SOP) keselamatan di seluruh resort, agen tour, dan angkutan wisata maritim di wilayah Kepulauan Togean dan sekitarnya dan Upaya Peningkatan Kapasitas dan Sertifikasi Mendorong pembinaan berkesinambungan serta sertifikasi keselamatan bagi para pelaku jasa wisata dan pemandu lokal, tidak membiarkan pelaku industri berjalan sendiri tanpa supervisi regulasi serta Penataan Manajemen Krisis dan Komunikasi Publik dalam kerangka Menyiapkan protokol crisis center pariwisata yang cepat tanggap untuk memberikan klarifikasi serta kepastian informasi kepada publik dan pasar internasional saat terjadi musibah.
Peningkatan sektor pariwisata di Bumi Sivia Patuju tidak akan berkelanjutan jika jaminan keselamatan dan pengawasan regulasi dari dinas terkait masih minim. Sinergi antara Dinas Pariwisata, Syahbandar, DPC HPI, dan pengelola resort kini menjadi harga mati agar reputasi pariwisata Tojo Una-Una di mata dunia tidak terpuruk. ( t-media.id/Red )












































Touna Media Infotama
