AMPANA KOTA|t-media.id— Kemarau panjang yang memicu krisis air bersih dan ancaman gagal panen di Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) menuntut langkah konkret dari pemerintah daerah. Namun, alih-alih memaparkan strategi teknis mitigasi bencana kekeringan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Touna bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama setempat memilih memfokuskan respons melalui gelaran Shalat Istisqa di Lapangan Stamina, Ampana Kota, Jumat (11/9/2026).
Ibadah yang dihadiri sekitar 1.000 warga serta jajaran jajaran elite Pemkab Touna—termasuk Bupati Ilham Lawidu dan Ketua DPRD Gusnar A. Sulaeman—tersebut berlangsung khidmat. Rangkaian ritual yang dipimpin oleh Habib Abdurrahman Bin Salim Al Idrus sebagai imam, Ustadz Moh. Fadel Taha Yasin sebagai khatib, dan KH Abdollah Lasawedi sebagai pembaca doa itu menjadi ruang kepasrahan warga di tengah himpitan krisis iklim lokal.
Dalam arahannya, Bupati Ilham Lawidu menekankan pentingnya refleksi moral dan peningkatan kualitas spiritual. “Ketika kita menghadapi kekeringan dan kemarau panjang, umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan shalat istisqa dan memperbanyak istighfar,” ujarnya usai pelaksanaan ibadah.
Senada dengan hal itu, Kepala Kantor Kemenag Touna, H. Muh. Syahruddin, menyebut kegiatan tersebut sebagai momentum peningkatan ketakwaan dan kesadaran lingkungan.
Pendekatan religius dalam menghadapi bencana hidrometeorologi seperti kekeringan memang memiliki fungsi sosiologis untuk menjaga ketahanan mental dan kebersamaan warga. Meski demikian, pendekatan spiritual belaka tanpa diimbangi oleh kebijakan teknis perbaikan tata kelola air dan lingkungan dinilai tidak menyelesaikan akar masalah.
Kekeringan ekstrem yang terus berulang di berbagai daerah kerap dipicu oleh dua faktor utama: fenomena variabilitas iklim dan kerusakan ekosistem penyangga air akibat alih fungsi lahan serta deforestasi. Tanpa adanya pembenahan infrastruktur penampungan air (seperti embung atau waduk), efisiensi distribusi air bersih, dan pemulihan kawasan resapan air, ritual doa bersama berisiko sekadar menjadi pelarian dari tanggung jawab tata kelola lingkungan hidup.
Krisis air di Tojo Una-Una seharusnya menjadi alarm keras bagi Pemkab Touna untuk segera menyusun rencana aksi mitigasi kekeringan yang komprehensif. Langkah nyata yang perlu diambil antara lain Mengidentifikasi titik-titik kawasan pertanian dan pemukiman yang paling rentan terhadap kelangkaan air, Mendorong investasi pada teknologi pemanenan air hujan (rainwater harvesting) serta pembuatan sumur resapan dan embung desa SERTA Mengedukasi masyarakat mengenai efisiensi penggunaan air serta mengevaluasi izin-izin tata ruang yang berpotensi merusak catchment area (daerah tangkapan air).
Ikhtiar spiritual dan kesadaran ekologis merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Masyarakat yang religius tidak hanya dipanggil untuk berdoa saat bencana melanda, melainkan juga dituntut aktif menjaga keseimbangan alam. Di sisi lain, pemerintah daerah berkewajiban hadir melalui kebijakan publik yang berbasis bukti (evidence-based policy) agar krisis air tidak menjadi agenda tahunan yang merugikan kehidupan warga Touna. *[]












































Touna Media Infotama
