TOUNA, t-media.id — Lapangan Pasar Rakyat Ampana, Desa Sansarino, Jumat pertengahan Agustus 2026, mendadak dipenuhi riuh barisan seragam cokelat. Gerakan Pramuka Kabupaten Tojo Una-Una menggelar upacara memperingati ulang tahunnya yang ke-65 secara serentak di berbagai penjuru wilayah.
Di atas podium pembina, Bupati Tojo Una-Una, Ilham, S.H.—yang juga bertindak sebagai Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab)—membacakan amanat dengan lugas di hadapan jajaran pengurus, kepala sekolah, dewan guru, hingga peserta didik.
Tahun ini, organisasi kepanduan itu mengusung tema yang terbilang pragmatis sekaligus sarat beban: “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.” Sebuah slogan mentereng yang secara tidak langsung menaruh harapan besar—dan tanggung jawab teknis ketahanan pangan—di pundak para remaja berseragam kacu merah-putih.
Dalam pidatonya, Ilham menekankan pentingnya peresapan nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma sebagai benteng moral serta pedoman hidup sehari-hari. “Saya mengajak seluruh anggota Pramuka di Kabupaten Tojo Una-Una untuk terus berkarya, berprestasi, menjaga persatuan, serta menjadi generasi yang tangguh dan mampu memberikan kontribusi positif bagi daerah dan bangsa,” ujar Ilham.
Rangkaian seremoni di Ampana Kota berlangsung teratur dan khidmat. Suguhan tarian sambutan dari siswa SMP Negeri 1 Ampana Kota membuka agenda, disusul pengibaran Sang Saka Merah Putih, pembacaan Pancasila, pengucapan UUD 1945, hingga kumandang Himne dan Mars Pramuka.
Tak hanya terpusat di ibu kota kabupaten, panggung peringatan juga didirikan di wilayah lain. Wakil Bupati Tojo Una-Una, Hj. Surya, S.Sos., M.Si., memboyong jajaran pemerintah daerah dan unsur TNI-Polri menghadiri upacara di Lapangan Sepak Bola Barati (Kecamatan Tojo) serta Lapangan Makole Raya (Kecamatan Tojo Barat).
Namun, di luar ketertiban baris-berbaris dan gaung mars yang membahana di lapangan, agenda swasembada pangan yang dititipkan kepada Gerakan Pramuka menyisakan pertanyaan mendasar: sejauh mana gerakan kepanduan tingkat daerah mampu mengejawantahkan narasi besar tersebut menjadi aksi nyata di lapangan, bukan sekadar pelengkap rias dalam kalender seremoni tahunan?
Bagi publik Tojo Una-Una, janji pembentukan karakter dan kontribusi nyata dalam ketahanan pangan itu kini ditunggu pembuktiannya—bukan lagi di atas rumput lapangan upacara, melainkan di tanah-tanah garapan tempat krisis dan tantangan pangan yang sebenarnya diuji. *[]
Sumber : Istimewah













































Touna Media Infotama
