t-media.id, AMPANA TETE | Di tengah bayang-bayang pengetatan fiskal dan kebijakan efisiensi anggaran (refocusing) yang melanda berbagai lini pemerintah daerah, sebuah terobosan sepihak justru datang dari tingkat kecamatan. Pemerintah Kecamatan Ampana Tete nekat meluncurkan rencana besar bertajuk Festival Maleo 2026 tanpa menyentuh sepeser pun dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
“Tidak ada satu sen pun anggaran APBD yang dipakai dalam kegiatan ini,” ujar Camat Ampana Tete dengan nada tegas saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran (launching) konsep festival tersebut.
Acara peluncuran tersebut digelar di Pelabuhan Mantangisi, Desa Mantangisi, Kecamatan Ampana Tete, pada Selasa (02/06/2026) malam. Pemilihan lokasi ini menyisakan cerita birokrasi yang cukup pelik. Pihak kecamatan harus melewati proses izin yang rumit, hingga akhirnya mengantongi lampu hijau dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Kantor Otoritas Pelabuhan Utama (KSOP) Makassar, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Ampana agar hajat ini legal dilaksanakan di area pelabuhan.
Langkah berani ini diambil justru untuk menyiasati kebuntuan anggaran yang kerap menjadi alasan mati surinya agenda-agenda kebudayaan dan pariwisata di daerah. Sang camat blak-blakan mengaku bahwa dirinya sengaja tidak melakukan koordinasi awal dengan Dinas Pariwisata maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat karena dihantui kekhawatiran yang sama: ketiadaan dana akibat pengetatan anggaran.
“Saya cuma takut (mendengar jawaban) tidak ada uang, karena adanya refocusing anggaran,” akunya secara blak-blakan di hadapan para pejabat daerah yang hadir.
Alih-alih menyerah pada keadaan fiskal daerah yang serba terbatas, pihak kecamatan memilih memosisikan diri sebagai “konseptor iklan”. Acara peluncuran malam itu disebutnya sebagai ruang pameran konsep untuk ditawarkan kepada pemerintah kabupaten selaku pemegang otoritas yang lebih tinggi.
Sebagai mesin penggerak finansialnya, pihak kecamatan bergerak lincah menggalang dukungan dari sektor privat. Sejumlah investor kakap yang beroperasi di wilayah tersebut berhasil digandeng sebagai sponsor utama, di antaranya adalah perusahaan perkebunan sawit PT Agri Asia Abadi dan konsorsium Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Swasta-swasta inilah yang disebut sang camat telah mengucurkan dana segar untuk memastikan roda persiapan festival tetap berputar.
Festival yang direncanakan bergulir pada 25 hingga 29 Juni 2026 ini bukan sekadar panggung hura-hura. Pihak kecamatan mengunci komitmen para sponsor dengan membawa misi krusial: konservasi Burung Maleo yang kini berada di ambang kepunahan. Melalui pendekatan ini, korporasi tidak sekadar menyumbang, melainkan ikut bertanggung jawab terhadap kelestarian ikon Kabupaten Tojo Una-Una yang harus dilindungi dari penjarahan telur secara ilegal.
Meski urusan logistik dan finansial diklaim aman di bawah kendali sponsor swasta, hajatan yang rencananya akan melibatkan 12 kabupaten dan 1 kota ini tetap memerlukan legitimasi birokrasi. Camat Ampana Tete menegaskan bahwa konsep yang disodorkannya bersifat dinamis dan siap dinilai. *[]








































![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)















Touna Media Infotama
