t-media.id, AMPANA TETE | Upaya melestarikan burung endemik Maleo (Macrocephalon maleo) dan merawat tradisi lokal di Kabupaten Tojo Una-Una kini dikemas dalam balutan festival. Mengusung tema besar “Harmoni Alam Bahari dan Rumah Budaya”, gelaran bertajuk Maleo Festival siap menghentak publik lewat rangkaian acara yang dimulai awal Juni ini.
Ketua Panitia Pelaksana, Sudirman S. Sambokol, menyatakan festival ini bukan sekadar panggung hiburan musiman. Ada misi ekologis dan kebudayaan yang ingin dititipkan kepada generasi muda.
“Kegiatan festival ini bertujuan untuk mempererat kebersamaan, sekaligus menjadi sarana kampanye dalam melestarikan burung endemik Maleo serta kekayaan budaya lokal kita,” kata Sudirman saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp. Sabtu malam, 30 Mei 2026.
Panggung utama festival ini bakal dipusatkan di Desa Mantangisi, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Tojo Una-Una. Panitia sengaja memecah agenda menjadi dua tahapan penting untuk menjaga animo publik: acara peluncuran (launching event) akan digelar pada Selasa, 2 Juni 2026, sementara puncak festival baru akan ditabuh pada 25 Juni 2026 mendatang.
Untuk memikat massa, panitia memboyong talenta-talenta lokal yang tengah naik daun. Nama Ririn Siolemba dan Cici Ratimba, dua biduan populer asal Tentena, dipastikan naik panggung untuk menggebrak lewat performa musik modern mereka.
Namun, daya tarik utama festival ini diyakini ada pada konsep kolaborasinya. Di sela-sela musik modern, panitia bakal menyisipkan Pentas Budaya Daerah. Langkah ini diambil untuk mengeksplorasi kembali kekayaan tradisi, ritus adat, dan kearifan lokal Touna yang mulai tergerus zaman. Sudirman berharap, ramuan acara ini bisa menjadi ruang edukasi yang cair namun membekas di hati masyarakat.
Di tengah gempuran modernisasi, Maleo Festival mencoba menawarkan jalan keluar lewat slogan “Merajut Kebersamaan dalam Pelestarian Alam, Budaya, dan Kearifan Lokal”. Lewat spirit “Bersama Membangun Touna”, perhelatan ini digadang-gadang menjadi sebuah gerakan kolaboratif yang nyata—menjaga laut tetap biru, hutan tetap lestari untuk Maleo, dan adat tetap terjaga.
Pihak panitia kini tengah bersiap menyambut kedatangan warga dari seantero Ampana Tete dan wilayah sekitarnya. “Saksikanlah dan hadirilah! Mari ambil bagian menjadi agen perubahan untuk budaya dan alam Tojo Una-Una,” ujar Sudirman menutup perbincangan. *[]








































![Jurnalis t-media.id saat mewawancarai Kepala Desa Tete A di Kantornya, dan Foto Konservasi Mangrove. [foto : istimewa]](https://t-media.id/wp-content/uploads/2024/09/Potensi-Wisata-Kawasan-Konservasi-Mangrove-Desa-Tete-A.-Belum-Dilirik-Pemerintah-360x180.jpg)














Touna Media Infotama
