AMPANA TETE|t-media.id — Rasa ingin tahu yang tinggi dan dorongan gaya hidup kerap menjadi celah empuk masuknya narkoba serta penularan HIV/AIDS di kalangan remaja. Merespons ancaman nyata yang makin mengintai ruang kelas, Mahasiswa Anti Narkoba dan Peduli HIV/AIDS (MANPA) bersama Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) memboyong Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Tojo Una-Una ke MAN Tojo Una-Una, Desa Pusungi, Kecamatan Ampana Tete, Rabu 7 Oktober 2026.
Sosialisasi yang dimulai pukul 10.00 WITA ini tidak sekadar diisi dengan imbauan kaku, melainkan ajakan terbuka agar pelajar berani memutus rantai pergaulan berisiko. Namun, di balik seruan tersebut, porsi pengawasan orang tua dinilai menjadi benteng paling krusial yang tidak boleh bobol.
“Tekanan pergaulan (peer pressure) dan rasa penasaran masa remaja itu sangat kuat. Kalau rumah tidak jadi tempat yang aman dan ramah untuk berdialog, anak-anak akan mencari ‘pelarian’ di luar yang kerap kali berujung pada bahaya narkoba,” ujar Divisi Kaderisasi MANPA, Fathir Ali, di hadapan ratusan siswa dan jajaran dewan guru.
Fathir menegaskan, edukasi di sekolah hanyalah pemicu kesadaran. Kunci penentu karakter dan benteng pertahanan utama seorang anak tetap ada pada perhatian serta kepekaan orang tua di rumah. Menurutnya, maraknya kasus remaja terjebak penyalahgunaan zat berbahaya sering kali berakar dari minimnya komunikasi emosional dalam keluarga.
“Orang tua tidak cukup hanya menuntut prestasi akademik, tapi wajib peka terhadap perubahan perilaku anak, siapa kawan bergaulnya, dan apa yang sedang mereka hadapi. Pengawasan berbasis kasih sayang jauh lebih efektif mencegah jeratan narkoba ketimbang sekadar hukuman,” kata Fathir.
Di sisi lain, sosialisasi ini juga menyoroti bahaya laten HIV/AIDS yang kerap dibayangi stigma buruk dan narasi miring di media sosial. Fathir mendorong para pelajar untuk memahami isu ini dari sudut pandang medis yang objektif, bukan sekadar ketakutan tanpa dasar.
“Gen Z harus jadi generasi yang cerdas dan kritis. Tahu cara membentengi diri dari risiko penularan, tapi tetap memiliki empati tanpa mendiskriminasi mereka yang terdampak,” tuturnya.
Pihak sekolah dan delegasi Satresnarkoba mengapresiasi langkah kolaboratif ini. Lewat sinergi antara edukasi di sekolah dan pengawasan ketat di rumah, generasi muda diharapkan tak hanya terbebas dari jerat hukum, tetapi juga siap menjadi garda depan pelindung sesama. *[]
















































Touna Media Infotama
