TOJO UNA-UNA|t-media.id — Gemuruh penabuhan gendang dan aroma pembakaran bambu Lupi memenuhi Lapangan Sepak Bola Kelurahan Bailo Baru, Ampana Kota, Sabtu malam, 12 September 2026. Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid dan Bupati Tojo Una-Una Ilham Lawidu meresmikan Festival Budaya Bakulupi 2026—sebuah perhelatan ke-6 yang digadang-gadang paling megah, namun menyisakan pertanyaan besar terkait dampak jangka panjangnya.
Mengusung tema Posintuvu Raya atau semangat bersatu padu, festival ini memvisualisasikan rekonsiliasi lima entitas adat besar Tojo Una-Una: Suku Taa, Bare’e, Bobongko, Togian, dan Masyarakat Adat Malei. Seribu warga berdesakan menyaksikan ritual sakral pengambilan Ira Yeki hingga gesekan alat musik Geso-Geso. Namun, di balik panggung seni yang terbingkai rapi hingga 16 September mendatang, ada kekhawatiran festival ini terjebak pada komodifikasi budaya rutin tanpa multiplier effect yang jelas.
Dalam pidatonya, Anwar Hafid mendorong festival ini agar tak sekadar menjadi kalender tahunan, melainkan penggerak ekonomi warga. “Anak-anak muda tidak boleh hanya jadi penonton, tetapi pelaku dan pewaris kebudayaan,” tegasnya. Ia bahkan menginstruksikan Dinas Pariwisata Sulteng untuk menaikkan kelas Bakulupi menjadi event tingkat provinsi guna menopang pariwisata Kepulauan Togean.
Klaim tersebut sejalan dengan pujian Bupati Ilham Lawidu yang menyebut penyelenggaraan kali ini sebagai yang paling mewah berkat kucuran dana provinsi dan pusat. Namun, kemewahan panggung seremonial ini menyembunyikan ujian mendasar bagi sektor UMKM dan pariwisata lokal:
Keterlibatan perajin kain tradisional, pelaku kuliner, dan seniman lokal kerap berhenti begitu panggung dibongkar. Tanpa intervensi pasar yang berkelanjutan, lapak UMKM yang riuh selama lima hari ini berisiko kembali sepi, Janji menjadikan festival ini penopang Kepulauan Togean terbentur pada fakta klasik: lemahnya infrastruktur konektivitas dan manajemen perjalanan. Tanpa pembenahan paket wisata terpadu, turis luar daerah hanya menjadikan Bakulupi sebagai tontonan singkat tanpa tinggal lebih lama (length of stay yang rendah). Memboyong lima entitas suku ke atas panggung berpotensi mereduksi makna sakral ritual menjadi sekadar komoditas estetika hiburan demi memuaskan selera tamu VIP dan agenda politik daerah.
Festival Bakulupi 2026 membuktikan bahwa pemerintah daerah mampu menyajikan pertunjukkan skala besar. Namun, indikator keberhasilan festival budaya yang sejati bukanlah dari seberapa megah kembang api dinyalakan atau seberapa panjang daftar pejabat yang hadir, melainkan dari seberapa mandiri para perajin lokal dan seberapa kuat identitas adat bertahan setelah lampu panggung dipadamkan. *[]













































Touna Media Infotama
